Langsung ke konten utama
kemarin malam aku sempat berpikir "kayanya aku bakalan mati cepet." setelah 2 minggu lebih tidak bisa memejamkan mata pada malam hari. terkadang aku tidur pada pukul 12 siang dan bangun ketika adzan magrib. tidak merasakan cahaya matahari, bangun dengan tulang yang terasa sakit dan kesedihan yang tak kunjung henti.
ada hari dimana ketika aku menangis sendirian karena badanku yang sudah tidak karuan dan terlalu banyak beban yang menumpuk.
jam 9 malam aku mengabari temanku gina bahwa aku akan menginap dirumahnya. namun ketika sudah bersiap untuk pergi, aku seolah tidak punya energi. yang ku lakukan hanya berbaring diatas tempat tidur. dadaku begitu sesak hingga aku tak bisa memikirkan salah satu alasannya. karena begitu banyak beban dalam otakku, semuanya silih berganti. akhirnya semua pecah, malam itu aku menangis. diselingi rintihan meminta tolong terus-menerus, meskipun entah pada siapa. yang jelas aku benar-benar tidak bisa menanggung sesak di dada.
orang bilang, menangis bisa melegakan sesak. namun malam itu menangispun tidak mengurangi apa-apa. yang terjadi selanjutnya adalah aku berpikir bagaimana kalau aku minum saja racun tikus yang ada di lemari atau bagaimana jika aku iris saja pergelangan tangan menggunakan pisau. untuk pertama kalinya aku takut pada diriku sendiri, karna perasaan itu begitu kuat. aku takut jika aku akan nekat dan melakukan hal yang akan menyakiti banyak orang.
dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, kuraih ponsel dan segera aku hubungi temanku willy untuk menjemputku.
untung saja tak berapa lama dia datang. lalu aku mengajaknya untuk pergi keluar dan kami berhenti di sebuah warung kopi.
dengan mata yang masih sembab dan sesekali menahan tangis, aku bercerita tentang apa yang aku alami belakangan ini.
dia berkata "jangan mati ren, nanti gak bisa nongkrong lagi."
"bener juga sih wil, kalo pengen nongkrong mesti ada mediasi. trs gw gamau dikasih jarcok lagi, harus sampurna mild." jawabku.
dan ditimpali dengan candaan receh lainnya.
aku bersyukur karena mereka masih ada untukku bersamaan dengan malu karena aku merepotkan mereka.
terimakasih willy, terimakasih gina.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sebuah mimpi

​ Hari itu kami berangkat liburan bersama. Rombongan kecil, seperti perjalanan singkat untuk menghirup udara baru. Tujuan awalnya sebuah vila di tempat terpencil, dikelilingi hutan lebat. Hanya ada pohon di kiri-kanan. Begitu sampai, ada rasa yang tidak pas. Sunyi yang terlalu sunyi. Tak menunggu waktu lama kamipun sepakat putar balik, mencari tempat lain. Hingga kami menemukan vila kedua, dekat pemukiman warga. Di depannya terdapat masjid dan rumah-rumah berdempetan, suara kehidupan yang terasa normal. Aman. Kami masuk dan mulai bersenang-senang. Tertawa, bermain, menikmati kebersamaan. Sebagian dari rombongan bermain game di halaman. Aku berada di dalam vila, menyiapkan keperluan barbeque sambil sesekali menatap ke luar, melihat mereka yang bermain. Di dalam vila itu, aku melihat dua anak kecil sekitar tiga dan lima tahun hadir begitu saja, tenang, seperti bagian dari tempat itu. Tiba-tiba seorang pria yang biasa dipanggil “ustad” entah kenapa kami memanggilnya begitu, dia berlar...
04.03 malam ini tak air mata mengalir begitu saja setelah melihat video yang memperlihatkan seorang perempuan yang berhasil di selamatkan oleh sopir dalam percobaan bunuh diri. dalam rekaman yang diambil dari cctv bus. seorang perempuan berdiri di atas jembatan, kemudian sang sopir turun dan mencoba mengajak perempuan tersebut untuk bergerak menjauhi tempat tsb, namun sepertinya ia enggan untuk beranjak. ditengah ketegangan, sopir menipunya dengan mengarahkan pandangan wanita tersebut ke arah lain. ketika ia lengah, sang sopir menangkap perempuan tersebut dan membawanya ke tempat yang lebih aman. seketika beberapa pria keluar dari dalam bus membantu membawanya ke dalam bus. aku tidak tau cobaan seperti apa yang dihadapi wanita tsb sehingga ia ingin mengakhiri hidupnya. mungkin dia berpikir bahwa kematian adalah cara terbaik agar kita tidak merasakan lagi sakit. pun aku sering berpikir demikian untuk mengakhiri rasa sakit. 3 tahun dibayangi keinginan untuk bunuh diri. bahkan ada satu wa...
the litle in me always want to find "my self". but i asked "wich one?". and the litle in me can't answer that question. someday, i told to the litle in me "we will not looking for true rena like before, we will create rena who have a beautifull soul, not a temprametal person, a wise rena, an indipendent person, and a lot good thing. it will not easy, i know. but we would try. and i believe it." the litle in me smile.