kemarin malam aku sempat berpikir "kayanya aku bakalan mati cepet." setelah 2 minggu lebih tidak bisa memejamkan mata pada malam hari. terkadang aku tidur pada pukul 12 siang dan bangun ketika adzan magrib. tidak merasakan cahaya matahari, bangun dengan tulang yang terasa sakit dan kesedihan yang tak kunjung henti.
ada hari dimana ketika aku menangis sendirian karena badanku yang sudah tidak karuan dan terlalu banyak beban yang menumpuk.
jam 9 malam aku mengabari temanku gina bahwa aku akan menginap dirumahnya. namun ketika sudah bersiap untuk pergi, aku seolah tidak punya energi. yang ku lakukan hanya berbaring diatas tempat tidur. dadaku begitu sesak hingga aku tak bisa memikirkan salah satu alasannya. karena begitu banyak beban dalam otakku, semuanya silih berganti. akhirnya semua pecah, malam itu aku menangis. diselingi rintihan meminta tolong terus-menerus, meskipun entah pada siapa. yang jelas aku benar-benar tidak bisa menanggung sesak di dada.
orang bilang, menangis bisa melegakan sesak. namun malam itu menangispun tidak mengurangi apa-apa. yang terjadi selanjutnya adalah aku berpikir bagaimana kalau aku minum saja racun tikus yang ada di lemari atau bagaimana jika aku iris saja pergelangan tangan menggunakan pisau. untuk pertama kalinya aku takut pada diriku sendiri, karna perasaan itu begitu kuat. aku takut jika aku akan nekat dan melakukan hal yang akan menyakiti banyak orang.
dengan air mata yang tidak berhenti mengalir, kuraih ponsel dan segera aku hubungi temanku willy untuk menjemputku.
untung saja tak berapa lama dia datang. lalu aku mengajaknya untuk pergi keluar dan kami berhenti di sebuah warung kopi.
dengan mata yang masih sembab dan sesekali menahan tangis, aku bercerita tentang apa yang aku alami belakangan ini.
dia berkata "jangan mati ren, nanti gak bisa nongkrong lagi."
"bener juga sih wil, kalo pengen nongkrong mesti ada mediasi. trs gw gamau dikasih jarcok lagi, harus sampurna mild." jawabku.
dan ditimpali dengan candaan receh lainnya.
aku bersyukur karena mereka masih ada untukku bersamaan dengan malu karena aku merepotkan mereka.
terimakasih willy, terimakasih gina.
Komentar
Posting Komentar