Langsung ke konten utama

04.03

malam ini tak air mata mengalir begitu saja setelah melihat video yang memperlihatkan seorang perempuan yang berhasil di selamatkan oleh sopir dalam percobaan bunuh diri. dalam rekaman yang diambil dari cctv bus. seorang perempuan berdiri di atas jembatan, kemudian sang sopir turun dan mencoba mengajak perempuan tersebut untuk bergerak menjauhi tempat tsb, namun sepertinya ia enggan untuk beranjak. ditengah ketegangan, sopir menipunya dengan mengarahkan pandangan wanita tersebut ke arah lain. ketika ia lengah, sang sopir menangkap perempuan tersebut dan membawanya ke tempat yang lebih aman. seketika beberapa pria keluar dari dalam bus membantu membawanya ke dalam bus.

aku tidak tau cobaan seperti apa yang dihadapi wanita tsb sehingga ia ingin mengakhiri hidupnya. mungkin dia berpikir bahwa kematian adalah cara terbaik agar kita tidak merasakan lagi sakit. pun aku sering berpikir demikian untuk mengakhiri rasa sakit. 3 tahun dibayangi keinginan untuk bunuh diri. bahkan ada satu waktu dimana ketika aku bermimpi hal yg menyenangkan, ada suara lain disana yang berkata "bukankah yang kau inginkan hanyalah mati." suara itu begitu jelas terdengar.

aku yang selalu melihat gambaran diriku menggantung dengan leher yang terjerat atas tali, membayangkan rasanya menenggak racun, memikirkan skenario bagaimana aku dapat mati seolah-olah itu adalah kecelakaan dan mencari tahu cara mati tercepat dan tidak menyakitkan.

ketika rasa sakit ini tak tertahan dan ingin mencoba untuk mengakhirnya dengan melakukan hal tsb. namun, membayangkan rasa malu dan kesedihan yang akan dialami keluarga dan orang yang aku tinggalkan selalu menahanku. aku tidak mau keluargaku digunjing orang-orang, aku tidak mau kehilanganku menjadi beban lain bagi mereka. karna aku tau, tidak mudah untuk menerima kehilangan.

apakah mereka bisa menerima bahwa ketiadaanku adalah keputusanku dan sesuatu yang aku inginkan. bukankah mestinya mereka berbagia akan hal itu.

semuanya terasa begitu rumit, apalagi ketika dihadapi sendirian. bahkan tidak ada orang yang dapat diajak berbicara atau hanya sekedar mengelus punggung untuk menenangkan. tapi yasudahlah..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

sebuah mimpi

​ Hari itu kami berangkat liburan bersama. Rombongan kecil, seperti perjalanan singkat untuk menghirup udara baru. Tujuan awalnya sebuah vila di tempat terpencil, dikelilingi hutan lebat. Hanya ada pohon di kiri-kanan. Begitu sampai, ada rasa yang tidak pas. Sunyi yang terlalu sunyi. Tak menunggu waktu lama kamipun sepakat putar balik, mencari tempat lain. Hingga kami menemukan vila kedua, dekat pemukiman warga. Di depannya terdapat masjid dan rumah-rumah berdempetan, suara kehidupan yang terasa normal. Aman. Kami masuk dan mulai bersenang-senang. Tertawa, bermain, menikmati kebersamaan. Sebagian dari rombongan bermain game di halaman. Aku berada di dalam vila, menyiapkan keperluan barbeque sambil sesekali menatap ke luar, melihat mereka yang bermain. Di dalam vila itu, aku melihat dua anak kecil sekitar tiga dan lima tahun hadir begitu saja, tenang, seperti bagian dari tempat itu. Tiba-tiba seorang pria yang biasa dipanggil “ustad” entah kenapa kami memanggilnya begitu, dia berlar...
the litle in me always want to find "my self". but i asked "wich one?". and the litle in me can't answer that question. someday, i told to the litle in me "we will not looking for true rena like before, we will create rena who have a beautifull soul, not a temprametal person, a wise rena, an indipendent person, and a lot good thing. it will not easy, i know. but we would try. and i believe it." the litle in me smile.