Hari itu kami berangkat liburan bersama. Rombongan kecil, seperti perjalanan singkat untuk menghirup udara baru. Tujuan awalnya sebuah vila di tempat terpencil, dikelilingi hutan lebat. Hanya ada pohon di kiri-kanan. Begitu sampai, ada rasa yang tidak pas. Sunyi yang terlalu sunyi. Tak menunggu waktu lama kamipun sepakat putar balik, mencari tempat lain.
Hingga kami menemukan vila kedua, dekat pemukiman warga. Di depannya terdapat masjid dan rumah-rumah berdempetan, suara kehidupan yang terasa normal. Aman. Kami masuk dan mulai bersenang-senang. Tertawa, bermain, menikmati kebersamaan.
Sebagian dari rombongan bermain game di halaman. Aku berada di dalam vila, menyiapkan keperluan barbeque sambil sesekali menatap ke luar, melihat mereka yang bermain. Di dalam vila itu, aku melihat dua anak kecil sekitar tiga dan lima tahun hadir begitu saja, tenang, seperti bagian dari tempat itu.
Tiba-tiba seorang pria yang biasa dipanggil “ustad” entah kenapa kami memanggilnya begitu, dia berlari panik dari pinggir halaman. Wajahnya pucat. Ia menunjukkan ponselnya pada orang-orang, sebuah foto yang hanya terlihat sekilas sebelum ia menutup layarnya dengan tangan, seolah tak sanggup memperlihatkannya lebih lama. Kepanikan menyebar tanpa penjelasan.
Kami berlari ke masjid untuk meminta tolong pada warga. Namun semakin dekat, suasana berubah. Keramaian menghilang. Pemukiman yang tadi hidup kini tampak sepi dan kumuh, seperti sudah puluhan tahun tak ditinggali. Seorang bapak-bapak berdiri di sana, menatap kami dengan sorot mata yang tajam dan tidak ramah, seolah sedang bersiap menerkam.
Kami berlari ke kebun di samping masjid. Namun satu teman kami, Ema, tidak ikut berbelok. Ia berlari lurus melewati masjid dan terpisah dari rombongan. Kami memanggil namanya, tapi kepanikan mendorong kami terus masuk ke kebun. Di sana, jalan buntu. Yang kami temukan hanya jurang, menganga di pinggirnya. Tidak ada jalan keluar.
Di tengah kepanikan itu, seseorang berkata, “Aneh ya… gimana kalau kita balik lagi ke masjid yang tadi?”
Kami setuju.
Saat kembali, semuanya berubah. Masjid itu kembali normal, seperti saat pertama kali kami memasuki desa tersebut. Bersih. Ramai. Hangat. Kami sadar: apa yang kami lihat sebelumnya hanyalah ilusi. Kami telah dikelabui oleh sesuatu yang bukan manusia. Warga berdatangan, mengerubungi kami. Kami meminta tolong. Akhirnya, kami bisa pulang ke rumah masing-masing.
Keesokan harinya aku kembali bekerja. Namun di depan kantorku, ada mayat. Itu teman kami yang hilang malam sebelumnya.
Baru saat itu aku tahu foto apa yang ditunjukkan ustad. Foto seorang teman kami yang hilang saat bermain game di halaman vila. Dalam foto itu, ia terlihat dari samping, kepala sedikit mendongak, mulut menganga. Sebuah tangan, bukan tangan manusia, menembus kepalanya dari bagian belakang ke depan.
Setelah itu, kematian misterius lainnya datang. Sebuah boks berisi kepala dengan topeng yang masih menempel. Kepala teman kami. Kami baru sadar: makhluk itu merasuki salah satu dari kami secara bergantian, lalu membunuh yang lain.
Pola itu berulang. Kami tidak menyadarinya saat itu terjadi. sampai menyisakan empat orang. Aku, pacarku, seorang pria botak, dan satu teman lagi sebut saja si kriting
Hari berikutnya pacarku mengajakku movie date di apartemennya. Aku, si botak, dan si kriting berada di rooftop gedung, seberang gedung apartemen pacarku. Si botak menggunakan mesin berat, seperti excavator, untuk mengangkat AC ke lantai kamar pacarku. Ia tampak sangat bersemangat. Aku dan si kriting hanya menonton.
Setelah selesai, kami bertiga duduk di tepi gedung. Pacarku masih di seberang. Kami duduk diam, merenungi semua yang telah terjadi. Kami pikir ini sudah berakhir.
Kami salah!
Tiba-tiba si botak kerasukan. Ia mendorongku ke tepi gedung. Tubuhku jatuh, tapi tanganku masih sempat mencengkeram ujung tembok. Aku tergantung di sana. Lalu dia menghampiri si kriting dan mencekiknya. Mereka berkelahi, lalu keduanya jatuh dari atas gedung dan mati.
Pacarku berlari panik menghampiriku. Tapi kami berdua sadar makhluk itu kini ada di dalam dirinya.
Tak lama ada seorang perempuan, ibu muda, dan anak kecil. Dua sosok yang dulu kulihat di vila. Mereka belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat sang ibu mangajak kami berbincang. Pacarku mengalihkan pandanganya kepadaku, menatapku kosong. Seolah terkoneksi, tanpa bicara, kami tau apa yang ada di pikiran kami masing-masing dan tak mengihiraukan apa yang dibicarakan perempuan tersebut. Ia tertawa, tapi tangis getir menyelip di wajahnya. Aku tahu. Target berikutnya adalah anak kecil itu.
Begitu aku menyadarinya, aku berlari ke laut. Aku ingin mengakhiri semuanya. Aku tidak ingin anak itu menjadi korban. Pacarku mengejarku. Entah kenapa, ada aturan yang tak tertulis: tidak ada yang boleh bunuh diri. Aku berlari ke laut, tapi airnya tak pernah cukup dalam. Aku tidak bisa tenggelam.
Kami berkejaran di laut, dan ketakutan itu memuncak.
lalu aku terbangun.
Komentar
Posting Komentar